Share On FB
Kisah nyata ini bener-bener kualami. Terjadi sekitar enam tahun silam saat usiaku menginjak 28 tahun. Aku terjerat hubungan percintaan yang panas membara dengan nenekku sendiri. Walau berstatus nenek tapi wanita yang satu ini bukannya sudah tua atau keriput. Orangnya cantik, putih dan lemah lembut, makanya diusia yang sudah menginjak 40 tahun, nenekku ini masih terlihat seperti wanita berusia 30 tahun. Maklum sebagai wanita dalam keluarga kaya, tidaklah sulit untuk merawat diri termasuk senam. Oya.. nama nenekku ini Elsa. Dalam tingkatan keluarga aku mesti memanggilnya nenek karena suaminya adalah adik kakekku. Kakekku berumur 55 tahun jadi berjarak 15 tahun dengan nenek.

*****

Kumulai kisahku saat setelah berpisah dari istriku, aku meninggalkan rumah dan tinggal ditempat kost. Karena kesibukan pekerjaan, aku baru bisa jalan-jalan mengunjungi saudara di hari Sabtu dan Minggu termasuk dirumah kakek dan nenek Elsa. Setelah sekian lama tidak berkunjung, kedatanganku diterima dengan suka cita. Mungkin juga mereka ingin menghiburku setelah perceraianku. Akupun tambah sering berkunjung bahkan sudah mulai sering menginap karena kebetulan ada kamar yang kosong. Bisa ditebak kenapa aku jadi betah dirumah itu. Karena nenekku yang cantik sangat ramah melayaniku. Kadang saat bangun pagi sudah dihidangkan sarapan khusus buatku.

Aku lebih sering menginap apalagi kalau masuk kerja midle jadi aku ada kesempatan berlama-lama dengan nenekku Elsa. Kakekku berangkat pagi-pagi sekali, sementara kedua anak mereka sekolah di Singapura. Cuma tinggal pembantu saja. Suasana seperti ini kumanfaatin untuk bercengkerama dengan nenek cantik bahenol ini. Walau pikiran kotorku suka menggelayut ketika melihat kecantikan nenek, tapi aku selalu mengesampingkan karena nenek sangat baik dan sopan. Selama menginap aku mulai memperhatikan keanehan di rumah. Aku sering bertanya dalam hati kenapa koq kakek dan nenek tidurnya di kamar terpisah? Tapi pertanyaan itu Cuma menggelayut dibenak karena aku tidak berani bertanya.

Sampai kemudian disuatu pagi saat pembantu sedang kepasar, aku memberanikan diri bertanya.
"Nek, kenapa sih nggak tidur sekamar dengan kakek?" tanyaku.
Nenekku sedikit terdiam sejenak.
"Itulah kakekmu.," tiba-tiba nenek tersedu tidak bisa menahan emosinya.
Aku jadi tidak enak hati.
"Andy, kamu bisa nyimpen rahasia nggak?" tanya nenekku disela isaknya.
"Bisa nek" jawabku.
"Kakekmu itu punya kelainan, dia lebih tertarik kepada laki-laki. Kakek pernah kepergok bawa laki-laki muda kerumah ini, bahkan Aku mergokin mereka lagi bermesraan di kamar, siapa yang nggak kesel", Nenek terdiam.
"Tolong jaga rahasia ini ya, aku malu kalo ketahuan orang. Sudah lama aku pengen cerita tapi aku nggak ada teman ngobrol, please jangan cerita siapa-siapa ya," pinta nenekku.

Semenjak saat itu keinginan yang terpendam dalam diriku selalu menyeruak. Apalagi setelah mengira-ngira kalau wanita yang berpostur mirip penyanyi sexi Connie Constantia ini pasti kesepian. Tapi sikap sopan nenek membuatku menaruh hormat. Sampai kemudian di suatu pagi ketika pembantu sudah ke pasar, tinggal aku dan nenek. Saat aku lewat kamar nenek yang terbuka sedikit kulirikkan mataku. Woowww.. berdebar dadaku. Kulihat di dalam kamar nenek membelakangi pintu dalam keadaan polos tanpa sehelai benangpun. Kayaknya baru selesai mandi. Ada sekitar 10 detik aku terpanah dan saat tersadar aku bergegas ke dapur. Di pikiranku mulai mengira-ngira, apakah nenek sengaja memancingku. Namun pikiran itu kucoba kesampingkan.

Saat kembali kearah kamar aku berpapasan dengan nenek yang sudah berganti pakaian. Ada sesuatu yang lain pagi ini. Nenek berpakaian agak seksi dengan kaos U can See plus rok pendek.Yang pertama kuperhatikan adalah nenek tanpa memakai BH. Ohh.. diam-diam aku bergidik membayangkan tubuh seksinya.
"Tumben ada apa nih koq seksi banget," sapaku.
"Emangnya nggak boleh" sahutnya.
"Bukan nggak boleh, kenapa nggak dari dulu berpakaian seperti itu, kan cantik sekali, kayak anak kuliahan," ujarku sedikit menggoda.
"Ahh, Andy bisa aja, emangnya aku masih cantik?" timpalnya manja.
"Siapa sih yang nggak tertarik melihat kecantikan nenek? Aku aja tertarik banget tapi sayangnya nenekku sendiri", jawabku memuji ditambah kata-kata menggoda.

Naluriku sebagai lelaki sejati mulai memberontak mengalahkan moral dan kesopanan. Apa salahnya aku menikmati tubuh indah didepanku? Apa salahnya aku memberi kepuasan seorang wanita yang lagikesepian? Toh aku nggak punya hubungan darah langsung dengan wanita cantik ini, batinku berkecamuk. Tanpa bisa ditahan si Mr. Happy mulai menunjukkan 'amarah'nya. Di balik celana pendek, kucoba mengatur posisinya yang mulai menonjol kencang. Ahh aku sedikit resah. Nafsu mulai mengalahkan segala akal sehat dan moral.

Mungkin dilandasi naluri kelelakian yang mulai naik atau rasa ingin memuji, ataupun nafsu yang mulai membara, tanpa kusadari tanganku merangkul pundak nenek seraya mengelus-ngelus pangkal lengan.
"Nenek cantik sekali," gumamku pelan.
"Eit, jangan nakal. Tapi Andy mau kan kalo Cuma kita berdua yang ngobrol jangan panggil aku nenek, panggil aja Elsa ya," pintanya.
"Iya nek, ehh Elsa," bisikku ditelinganya.
Ternyata bisikan itu berefek sangat cepat karena nenek menggelinjang kegelian.
"Ihh kamu tuh, bikin aku merinding, dah lama nih nggak disentuh jadi jangan macam-macam," kata nenek.
Justru komentar seperti itu membuat aku semakin berani bertindak lebih.
"Emangnya kalo macam-macam kenapa?" kataku sambil mencolek pinggul bahenol milik nenekku yang cantik itu.
"Ahh Andy bisa aja, aku kan sudah nenek-nenek dan nggak menarik lagi?" ucapnya lirih.
Aku tahu kalau ucapannya tadi memndakan hati seorang wanita yang ingin dipuji.
"Mau dengar yang jujur? Elsa antik sekali, sangat mubasir kalo wanita secantik ini disia-siain. Emang kakekku tuh orang bego, mahluk seindah ini dibiarkan nganggur," sahutku ditambah jurus-jurus rayuan maut.

Sekonyong-konyong entah dari mana datangnya keberanianku, kutarik tubuh nenek dan kupeluk. Tanpa perlu menunggu komentarnya aku sudah langsung mencium bibirnya. Bibirnya yang merekah kucium bertubi-tubi. Ada sedikit perlawanan penolakan karena mungkin kaget. Tapi nggak berselang lama perlawanan tadi jadi tanpa penolakan lagi. Bahkan nenek mulai 'melawan' dengan kulumannya. Bibirnya yang merekah tadi mulai terbuka lebar. Lidahku mulai dipilinnya. Kami saling hisap lama karena nenek ternyata pintar sekali berciuman. Selama berhubungan dengan banyak wanita, belum pernah aku merasakan ciuman panas seperti ini.

Sekitar 10 menit kami berciuman, seakan nggak mau terlewatkan setiap sudut bibir dan mulut. Kuberanikan tangan mengelus pahanya yang putih mulus. Nenek sedikit menggelinjang. Ujung jari kusapukan dari jari kakinya dan merayap keatas perlahan. Wanita dipelukanku semakin terbungkus nafsu yang kuciptakan. Dengan tetap menjelajahkan bibirku di bibir dan lehernya, telapak tanganku meraba kulit pahanya bagian dalam. Nenek menggelinjang dahsyat. Kudorong tubuh nenek ke sofa dipojok ruang tamu. Kuangkat kaos U can see pink dan aku tertahan menatap buah dada putih yang menggantung indah. Walau tak terlalu besar namun dua gundukan putih bersih itu ditambah puting yang tidak terlalu besar membuat nafsuku semakin liar. Nenek bersandar pasrah dengan apa yang aku lakukan dan hanya bisa mengerang penuh nafsu. Kami melakukan tanpa kata-kata. Hanya sorot mata penuh keinginan yang terpancar ketika kami bergumul.

Perlahan kusisipkan jariku dari balik celana dalamnya. Dan tanpa dikomando jari tengahku langsung menjelajah bibir vagina yang sudah banjir. Nenek kembali menggelinjang. Dipeluknya aku erat-erat sambil bibirku masih mengulum putingnya. Ketika jari kumasukkan mencari sasaran klitoris dan G-spot, nenek semakin menggelinjang. Kulihat nenek sepertinya mau sampai puncak. Kucoba kendalikan suasana dengan memperlambat tempo permainan jari. Nenek seperti kecewa namun nggak berani berkata-kata. Hanya matanya yang kelihatan meminta untuk melanjutkan. Dengan sedikit rasa kasihan melihat penantian wanita ini, kuloloskan celana dalam nenek dan masih di sofa kukangkangkan kakinya. Nenek bagai dicocok hidung menuruti apa yang kulakukan. Uhh.. rambut hitam lebat menutupi segumpal daging yang sudah basah memerah. Perlahan bibirku kudaratkan kebibir bagian bawah itu. Dengan lihainya kujulurkan lidahku menjelajah klitorisnya.
"Ahh.. Andy," nenek merintih, "Enak.. enak, kamu hebat sekali," gumam nenek.
Kupercepat gerakan lidahku menelusuri setiap sudut vagina nenekku yang cantik. Cuma sekitar lima menit sejak kujilati kemaluannya, badan nenek kemudian mengejang. Aku hapal sekali ritme wanita seperti ini. Nenek pasti mau mencapai puncak. Kugigit klitorisnya dan tiba-tiba meledaklah emosi nenek. Nenek Elsa meronta-ronta sambil menekan kepalaku yang semakin terbenam diselangkangannya.
Dan, ."Ahh..," nenek melenguh panjang tanda orgasme.
Badannya lemas terkulai di sofa.

Namun permainan belom berakhir karena nenek belom melakukan sesuatu buatku. Mungkin karena keenakan atau lupa, tadi nenek tidak melakukan kegiatan apapun selain menciumku. Walaupun itu kurasa nggak adil karena permainan cuma satu arah namun kubiarkan saja karena aku paham nenek sudah lama tidak melakukan ini jadi mungkin terlambat bereaksi karena keenakan hehehe. Kuloloskan celana pendekku. Punyaku yang sedari tadi tegak didalam celana, langsung menunjuk kearah muka nenek.
"Wow, besar sekali," komentar nenek disela nafasnya yang masih memburu.
Tanpa menunggu berkomentar lagi kutempelkan si Mr happy ke bibir mungil nenek. Dan semua batang langsung masuk kemulut. Dengan rakusnya nenek mengulum dan sesekali menjilat punyaku. Oh.. enak sekali. Aku merem-melek dibuatnya. Semua sisi batang kemaluanku tak luput dari sapuan lidahnya yang dahsyat. Kupikir, bodoh banget kakekku menelantarkan wanita cantik yang ahli seperti ini.
Aku bener-bener dibuat keenakan sama nenekku tercinta ini. Tanpa kata-kata kuajak nenekku merasakan yang indah-indah. Kutelentangkan nenek di sofa krem ruang tamu ini, kusingkapkan rok mininya dan aku mengambil posisi diatas tubuh bahenol ini dengan posisi 69. Posisi kwesukaanku ketika ML dengan wanita siapa saja. Kusibakkan rambut lebat dan labia mayoranya kuseruput dengan perlahan. Nenek Elsa menggelinjang kemudian balas mengulum Mr Happy-ku. Ohh.. enaknya. Nenekku ini bener-bener lihai mengulum dan mengisap. Belom pernah aku merasakan sensasi sedahsyat ini. Namun lagi enak-enaknya mengeksplorasi gaya 69 tiba-tiba pintu pagar depan berderit. Terlihat Bi Imah memasuki pekarangan. Dengan gerka cepat kami berbenah seperti tidak terjadi apa-apa.

Sialan nanggung banget! Persetan dengan segala norma. Kutarik tangan nenek ke lantai atas, ke kamarku.
"Nggak enak Ndy, nanti ketahauan Imah," nenek coba menolak, namun kuseret mengikuti langkahku.
"Pasti Bi Imah nggak curiga, lagian dia pasti mikirnya nggak ada apa -apa, wong nenek sama cucunya," kataku menggoda.
Pinggulku dicubitnya, "Awas kamu ya.. kamu emang bandel ya Ndy.. masak nenekmu sendiri kamu perlakukan seperti ini," katanya.
"Tapi Elsa suka kan?" jawabku.
"Ohh.. suka banget soalnya terus terang aku sudah dua tahun ini tidak berhubungan badan, tidak pernah disentuh lagi sama kakekmu," nenek menjelaskan.
"Sebelumnya aku pernah berhubungan dengan teman kakekmu, tapi nggak enak karena sudah loyo. Itupun cuma sekali dan aku nggak pernah mau lagi," kata nenek lirih.

Sesampai di kamarku, kukunci pintu dan langsung memeluk nenek.
"Jangan berisik ya Ndy," ujar nenek.
Aku menjawabnya dengan meloloskan kaos nenek. Tubuhnya yang putih mulus dengan buah dada semangkuk yang menantang. Aku bener-bener nafsu melihat nenekku yang sexi ini. Tanpa menunggu kucopot juga rok pendeknya. Karena sudah nggak bercelana dalam, pemandangan indah langsung terhampar didepanku. O ya, sebetulnya aku bisa dikategorikan udipus complex karena lebih tertarik dengan wanita yang usianya melebihi aku, apalagi kalo sudah beristri. Klop deh! Nenekku ini terlalu cantik untuk kunikmati.

Tubuh padat dari wanita beusia 40 tahun ini bener-bener sempurna. Idamanku. Tinggi sekitar 165 cm dengan punggung yang bersih, pinggul padat, paha berisi, betis bunting padi dan kaki yang rapi terurus. Wajahnya jangan ditanya, sempurna sebagai seorang wanita. Dengan rambut yang di cat agak pirang dan sedikit melewati bahu bener-bener indah dipandang. Nenekku ini emang masih ada darah Jermannya. Perlahan nenek Elsa melangkah ke arah cermin besar disebelah tempat tidurku. Dia berlenggak lenggok seperti peragawati.
"Aku masih cantik nggak sih Ndy?" tanyanya sedikit berbisik.
Tanpa menjawabnya kupeluk dia dari belakang. Aku yang juga sudah polos tanpa pakaian langusng bersentuhan kulit. Uhh.. Mr Happyku yang tadi nanggung langsung tegak menempel pinggul bahenol. Nenek kemudian berbalik dan kami berciuman lagi. Lama dan erat. Perlahan kudorong dia ke tempat tidurku. Kami melanjutkan posisi 69 yang tadi terganggu.
"Ndy, kamu jilatnya enak banget deh," seruak nenek disela kegiatannya mengisap punyaku.
"Elsa juga enak banget ngisapnya," sahutku.
Kurasakan nenek bergetar setiap kuseruput klitorisnya.

Tiba-tiba nenek menghiba, "Ndy..please masukin punyamu ya? Aku nggak tahan nih pengen ngerasain, dah lama nggak dimasukin, paling-paling aku gesek sendiri pake jari," pintanya.
Akupun mengambil posisi diatas tubuh sintal ini dan kembali mencium bibir indah. Tangan nenek memegang punyaku dan menuntun ke bibir vaginanya. Basah kalau tidak dibilang banjir. Dengan sedkit menekan, kudorong Mr Happyku memasuki area basah tadi. Walau agak sedikit kesulitan karena pembengkakan labia mayora namun bless, akhirnya masuk juga. Nenek menggelinjang dan menjerit kecil.
"Kenapa Elsa?" tanyaku.
"Aku sudah lama nggak ngerasain kayak gini," sahutnya disela erangan.
Kupompa pinggulku dengan ritme yang pasti, naik turun. Nenek juga menggoyangkan pinggulnya seirama, naik turun. Tapi kadang pinggulnya nakal merobah ritme dengan memutar. Ahh asiknya. Dengan posisi aku diatas, beberapa kali aku leluasa merobah posisi. Kuangkat kedua kaki tinggi-tinggi dan meletakkan dibahuku. Dengan posisi ini terasa sekali gigitan vaginanya.
"Ndy, enak bener.. terima kasih Ndy, kamu berani memulai tadi, aku sebetulnya juga suka membayangkan kamu tapi aku nggak berani memulai, kamu kan cucuku. Ohh makasih ya Ndy, aku senang banget," cerocos nenek Elsa, rame.

Kali ini kuselonjorkan kaki kirinya sementara kaki kanannya masih menyampir dipundakku. Dengan berlutut kutekan Mr Happy memenuhi vaginanya. Dengan penuh tenaga kugenjot keluar masuk. Nenek Elsa mengerang, namun dengan sedkit menahan suaranya, takut ketahuan Bi Imah. Kali ini kutelungkupkan dan ohh pantatnya yang besar berisi -tapi bukan gemuk-itu kuciumi. Kubuka paha belakangnya lebar-lebar dan kembali kumasukkan punyaku. Blepp.. dan kuenjot keluar masuk. Posisi seperti terasa enak buat Mr Happyku, juga enak buat nenek. Buktinya nenek Elsa kelojotan. Kemudian kuangkat pinggulnya dan dengan gaya dogie style ketekan dalam-dalam punyaku ke vaginanya yang terasa kian berdenyut.

Puas dengan posisi itu aku kembali memulai dari awal. Kuciumi kakinya, mulai dari ujung jari, menelusuri betisnya, ke paha dan singgah sebentar di vaginanya kemudian menyusur perut, naik sedikit ke buah dada, ke leher dan bermuara di bibirnya yang indah. Nenek Elsa kulihat merinding.
"Uhh enaknya kamu bener-bener membuat sensasi yang sangat berlebihan," gumam nenek.
Kali ini aku ngambil posisi telentang dan kuajak nenek untuk naik keatasku. Rupanya nenek sangat senang dengan posisi ini. Buktinya, dengan lincahnya dia nangkring diatas tubuhku dan Mr Happyku sudah menancap dalam-dalam divaginanya. Dan tanpa dikomando nenek sudah naik turun laksana kuda liar. Dia mengeksplor goyangannya keatas ke bawah, kesamping, memutar dan.. uhh aku bener-bener keenakan.

Nenek bener-bener layaknya anak kecil yang dapat mainan baru. Semuanya gaya dicobain. Terkadang punggungnya membelakangiku. Terkadang dia berjongkok. Pokoknya semua yang bisa dicobanya. Kali ini aku Cuma bisa pasif dan sesekali memnggoyangkan pinggulku atau memilin putingnya. Sengaja kubiarkan nenek bereksperimen sendiri. Aku ngerti banget kalo nenek Elsa bener-bener mau meluapkan keinginan yang terpendam.
"Dua puluh tahun kawin dengan kakekmu aku belom pernah merasakan permaian seperti ini. Biasanya kakekmu dulu kalo udah naik, cuma 2 menit udah keluar, payah. Aku pernah nyoba selingkuh dengan temen kakek ternyata sama saja.. cuma sebentar sudah keluar.. payah juga. Sudah lama aku berangan pengen main dengan lelaki muda, pengen merasakan sentuhan lelaki muda, tapi aku nggak berani, takut. Aku nggak berani memulai. Banyak temen-temenku yang nyoba jasa gigolo tapi aku nggak tertarik karena takut kenapa-kenapa. Makanya aku kaget waktu kamu godain aku tadi..padahal sih aku sudah membayangkan bisa seperti ini sama kamu tapi nggak berani mulai," lagi, cerocos nenek Elsa seakan menumpahkan isi hatinya dengan posisi tetap naik turun diatasku.

Tiba-tiba badan nenek mengejang. Aku merasakan itu. Aukupun langsung beraksi, kubalas goyangannya lebih dahsyat. Kuangkat tinggi-tinggi pinggulku dengan nenek tetap berada diatasku, kemudian tiba-tiba kujatuhkan.. ahh enaknya.
"Ndy,.. aku mau keluar.. Ndy aku mau.. Ndy," gumam nenek.
Kupercepat goyang pinggulku mengikuti irama goyangannya. Bener-bener kuda binal yang buas neneku ini, batinku. Tiba-tiba, "Ahh.. aku.. aku.. ke.. luuaarr.. ahh.. ohh.. ohh enaknya.. sayangku.. ohh.. indahnya," teriak nenekku tertahan.
Badannya berkelojotan kedepan dan kebelakang, kemudian mencengkeram pundakku dan selanjutnya tersandar didadaku dengan nafas tersengal. Nenek Elsa sudah merasakan orgasme yang sensasional.
"Ohh.. seumur hidup ini pertama kali aku mengalaminya, makasih ya Andy sayang," bisiknya ditelingaku.

Lama nenek mengatur nafas sambil terbaring diatas tubuhku.
"Elsa.. gantian dong aku juga pengen keluar..," kataku sedikit menggoda.
"Ohh.. ya.. kamu belom ya.. sampe lupa," sahutnya pelan.
Kami bertukar posisi, aku diatas dan Elsa di bawah, tanpa mencopot punyaku. Nenek Elsa membuka lebar-lebar pahanyamulusnya. Aku semakin bernafsu melihat kemulusan tubuhnya. Kuenjot pinggulku cepat, naik turun. Ada sekitar lima menit kucoba merangkai sensasi dengan MR Happyku yang mulai berdenyut.
Dan seperti lahar panas membara yang sudah mau menyembur, aku berbisik "Elsa.. aku mau keluar."
"Ayo sayang.. semprot sayang.. semprot yang kuat sayangku.. sudah lama aku menginginkannya," sahutnya sambil tetap menggoyang pinggul.
Elsa berkelojotan lagi. Dan wuaahh.. akupun menyemburkan sperma panas kedalam liang vagina nenekku. Aku mengejang! Namun disela kesadaran yang mulai hilang aku lihat nenek merem-melek dan kembali mengejang. Rupanya kami sama-sama keluar. Nenek mengeluarkan cairan kenikmatan untuk kesekian kalinya. Dan kamipun terdiam. Hanya nafas memburu yang berbicara. Aku masih menelungkup diatas tubuh nenenku tanpa mencopot punyaku, karena aku ingin merasakan sensasi pasca ejakulasi. Denyut Mr happy dan vagina yang beradu seakan jadi sensasi tersendiri.

Kami berpelukan dan saling mengecup. Peluh mengucur dimana-mana padahal kamarku ber-AC. Namun dengan peluh itu semakin menyatukan tubuh kami. Sejak itu aku jatuh cinta dengan nenekku yang cantik ini. Sejak kejadian itu aku tinggal menetap dirumah kakek-nenek. Dan mulai saat itu pula petualangan cinta kami lakukan, hampir tiap hari, tiap ada kesempatan. Kadang bangun tidur nenek sudah nongkrongin aku ditempat tidurku dengan memegang-megang punyaku. Kadang di sofa, di kamar mandi, di dapur, dimana saja setiap ada kesempatan berdua dan aman. Aku sering jadi sopir nganterin nenek kemana aja, karena disetiap kesempatan aku pasti diisepnya. Bahkan terkadang kami melakukan dikamar nenek yang bersebelahan dengan kamar kakek. Yang pasti dengan mengecilkan volume suara.

Sejauh ini kakek nggak curiga. Bahkan sampai saat ini aku masih tinggal dirumah itu dan masih melakukan aktifitas sex dengan nenek sexiku tanpa sepengetahuan kakek. Sejauh ini aman-aman saja. Aku bener-bener jadi suami nenek, menggantikan fungsi seksual kakekku yang doyan lelaki.Dan aku ketagihan, bahkan tidak kepikiran untuk kawin lagi karena kebutuhan sexualku terpenuhi.

Ataukah mungkin kakekku sudah tahu tapi membiarkan karena kakek juga pengen menikmati kehidupan seksualnya dengan lelaki-lelaki muda kesukaannya. Aku nggak tahu. Namun setelah pengalaman seksual yang indah bersama nenekku ini, aku ketagihan bermain cinta dengan wanita STW. Aku bahkan kemudian menggilir dua saudara perempuan nenek dan dua sepupunya. Yang pasti tanpa sepengetahuan nenek.

Log in
Sign up
Subscribe (14)
Featured feeds